Beranda | Artikel
Gelar Bulan Ramadhan
Kamis, 14 April 2022

Bersama Pemateri :
Ustadz Ahmad Zainuddin

Gelar Bulan Ramadhan ini adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang  disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 11 Ramadhan 1443 H / 13 April 2022 M.

Kajian Ilmiah Tentang Gelar Bulan Ramadhan

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gelar-gelar pada bulan Ramadhan. Dan dengan memahami gelar-gelar tersebut, maka kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita jauhi di dalam bulan Ramadhan.

1. Bulan Berpuasa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian  diwajibkan atas mereka berpuasa agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)

Juga berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan ayat dan hadits tersebut, maka para ulama Rahimahumullahu Ta’ala menyebutkan bahwa gelar salah satu gelar Ramadhan adalah شهر الصيام (bulan berpuasa).

Oleh karena itu pada bulan Ramadhan diwajibkan untuk berpuasa bagi setiap muslim, baligh, berakal, mampu, mukim, selain wanita yang haidh dan nifas. Siapa yang memenuhi enam syarat ini maka wajib baginya untuk berpuasa pada bulan Ramadhan.

Dan siapa saja yang muslim, baligh, berakal, mampu, mukim, terlepas dari halangan-halangan puasa seperti haid dan nifas, kemudian dia tidak berpuasa pada siang bulan Ramadhan tanpa ada udzur yang dibenarkan syariat, maka dia adalah pelaku dosa besar.

Yang patut diperhatikan saat kita mengatakan bahwa Ramadhan bulan berpuasa adalah bukan hanya sekedar berpuasa, tetapi berpuasa yang karena iman dan berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa makna berpuasa karena iman maksudnya adalah mempercayai bahwa ibadah puasa tersebut adalah benar datang dari Allah dan bermaksud mendapatkan kemuliaan dari puasa tersebut.

Puasa bukan sekadar rutinitas kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Tetapi ini adalah proses ibadah dimana kita menginginkan keutamaan dari puasa tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan berpuasa karena berharap pahala yaitu ketika berpuasa dia menginginkan pahala/penghargaan/sanjungan/ganjaran dari Allah, tidak memaksudkan dari puasanya pandangan manusia dan juga hal-hal selainnya yang menyelisihi keikhlasan berpuasanya.

2. Bulan Ketakwaan

Menit ke-21:22 Kalau kita perhatikan surah Al-Baqarah ayat 183-187, maka kita akan dapati bahwa ayat-ayat tersebut diawali dengan takwa dan diakhiri dengan takwa. Maka gelar Ramadhan adalah  شهر التقوى (bulan ketakwaan).

Talq bin Habib Rahimahullah mengatakan bahwa bertakwa adalah:

أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله، و تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan petunjuk dari Allah karena berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan meninggalkan maksiat yang dilarang oleh Allah dengan petunjuk dari Allah karena takut siksa Allah.”

Ringkasnya, takwa adalah mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang.

Oleh karena itu saat bulan Ramadhan, baik disiang hari saat berpuasa atau dimalam harinya kita dituntut untuk lebih bertakwa dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.

Ada sebagian orang yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia berpuasa tapi tidak bertakwa karena masih mengerjakan hal-hal yang terlarang saat berpuasa. Dia mengerjakan pembatal-pembatal puasa, atau mengerjakan pengurang-pengurang pahala puasa.

Lihat juga: Pembatal-Pembatal Puasa

3. Bulan Al-Qur’an

Menit ke-40:38 Imam Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri mengatakan:

إذا دخل رمضان إنما هو تلاوة القرآن وإطعام الطعام

“Sesungguhnya jika telah masuk bulan Ramadhan, maka dia adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an dan memberi makan kepada orang miskin.”

Maka saat yang paling sedih di bulan Ramadhan adalah bagi orang-orang yang belum lancar membaca Al-Qur’an sehingga tidak bisa menghatamkan Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan. Atau lebih parah lagi sudah lancar membaca Al-Qur’an  tetapi disibukkan dengan hal-hal yang melalaikan sehingga tidak khatam-khatam dalam bulan Ramadhan.

Memperbanyak khataman dalam bulan Ramadhan lebih utama. Karena itulah yang dicontohkan oleh Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

جبريل يلقاه كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن

“Jibril mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarus Al-Qur’an.”

Oleh karena itulah para ulama Rahimahumullahu Ta’ala banyak mengkhatamkan Al-Qur’an.

4. Bulan Kedermawanan

Menit ke-44:06 Disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Beliau bercerita:

كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أَجْوَدَ الناسِ، وكان أَجْوَدَ ما يكونُ في رمضانَ حِينَ يَلْقاهُ جبريلُ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam manusia yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi dalam bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Maka saya nasihatkan kepada orang-orang yang diluaskan rezekinya agar menginfakkan/mensedekahkan/mengeluarkan zakat dalam bulan Ramadhan. Kalau seandainya bukan pada bulan Ramadhan kita dermawan, maka mau kapan lagi dermawannya?

Bahkan disebutkan bahwa kedermawanan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih kencang dibandingkan angin yang menghembus.

5. Bulan Berdoa dan Berdzikir

Menit ke-46:43 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya di dalam hadits riwayat Imam Ahmad: “Wahai Rasulullah, puasa apa yang paling banyak pahalanya?”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا

“Orang puasa yang paling banyak pahalanya adalah orang yang paling banyak berdzikir saat berpuasa.” (HR. Ahmad)

Termasuk dzikir adalah membaca Al-Qur’an, beristighfar, bershalawat, berdoa kepada Allah. Maka itu yang membedakan antara puasa Si Fulan dengan Si Alan. Itu yang menjadikan puasanya tambah besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…

“Jika hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan orang yang berdoa jika ia berdoa kepadaKu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 186)

Ayat ini disebutkan oleh Allah di dalam surah Al-Baqarah 186 yang merupakan salah satu dari ayat-ayat puasa dan Ramadhan. Seakan-akan ada isyarat bahwa Ramadhan  شهر الدعاء والذكر (Bulan doa dan berdzikir).

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً

“Setiap muslim di setiap siang dan malamnya ada do’a yang dikabulkan.” (HR. Nuruddin Al-Haitsamiy)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa maksud hadits ini adalah pada bulan Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Ada tiga doa yang mustajab, (yaitu): doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terzhalimi dan doanya para musafir.” (HR. Al-Uqaili)

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari downlaod dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/51636-gelar-bulan-ramadhan/